Sunday, May 1, 2011

Mimpi

Mari sekarang kita bicara tentang mimpi.

Pertama kali saya kuliah di HI, saya merasa sangat sangat salah. Salah jurusan. Saya kehilangan cita-cita. Saya ingin jadi public relation di perusahaan ternama, atau ingin jadi jurnalis. Mungkin jurusan Komunikasi lebih cocok buat saya, setidaknya itu dulu yang selalu saya pikirkan. Saya selalu terkenal memiliki ambisi besar dalam hidup, dari SD, SMP, SMA, saya selalu tahu apa yang saya inginkan dan selalu berusaha untuk mencapainya. Sayangnya, semenjak kuliah, saya merasa tidak punya ambisi. Untuk apa saya kuliah di HI? Mau jadi apa? Jadi diplomat? Ogah. Saya kurang suka bekerja dalam institusi negeri, maksudnya menjadi birokrat. Orang-orang berlomba menjadi PNS, tapi saya memang tidak pernah dididik untuk menjadi PNS. Orangtua saya selalu mendorong saya (anak-anaknya, tapi adik saya tidak pernah mendengarkan) untuk berwirausaha ketika sudah besar kelak. Menjadi diplomat memang kelihatannya keren, tapi sepertinya itu bukan dunia saya. Maka ketika pertama kali masuk HI, saat ospek di kelas ada dosen yang bertanya "Di sini berapa banyak yang mau jadi diplomat? Coba tunjuk tangan!" hampir seluruh kelas mengangkat tangannya. Rata-rata mereka masuk HI dengan alasan "pingin jadi diplomat sih" tapi pemikiran itu tidak pernah terlintas di benak saya. Lalu saya merasa salah tempat saat itu juga. "Loh, semua orang mau jadi diplomat, makanya mereka masuk HI. Lalu saya? Harus jadi apa?"

Kehilangan ambisi berarti kehilangan identitas. Saya belajar giat, lalu saya pikir, buat apa? Saya akhirnya berprinsip, yasudahlah, cita-cita bisa dipikir nanti. Sekarang nilai harus tinggi dulu, biar cita-cita mengikuti. Que sera sera. Future's not ours to see, right?

Sedikit demi sedikit saya membuka pikiran saya. Selama kuliah, saya menjadi tahu bahwa aktor yang berperan dalam hubungan internasional bukan hanya negara (yang biasanya diwakili oleh diplomat). Ada banyak aktor lain, misalnya organisasi internasional, non-governmental organization (NGO), individu, dan perusahaan multinasional alias MNC. Wow, saya terkejut sekaligus merasa sedikit tercerahkan. Masa depan begitu luas rupanya. Saya tidak harus jadi diplomat hanya karena saya kuliah di HI! Yeay! Oke, masalah pertama terselesaikan. Namun, harus jadi apakah saya kelak? Semakin saya menekuni ilmu HI, saya semakin paham bahwa isu yang dibahas dalam dunia internasional itu bermacam-macam. Ada isu politik, keamanan, ekonomi, budaya, dll. Para aktor internasional yang sudah saya sebutkan sebelumnya saling berinteraksi untuk membahas dan menyelesaikan isu tersebut. Seru juga, saya pikir. Kemudian di semester ketiga, saya mendapat mata kuliah wajib yaitu Ekonomi Politik Internasional. Wow. Sangat wow. Saya menjadi sadar bahwa urusan ekonomi dan politik itu berkaitan, alangkah lebih baik bila dipandang menggunakan kedua sudut pandang tersebut. Untuk saya yang sudah mumet belajar politik, tentu mata kuliah ini memberi angin segar. Isu ekonomi dan politik saling berhubungan dan bagi anak ilmu politik seperti saya, perlu juga mempelajari ilmu ekonomi.

Saya tertarik untuk bekerja di perusahaan multinasional. Lebih dari itu, saya berharap bisa menjadi CEO salah satu perusahaan multinasional ternama di dunia. Impian tidak boleh tanggung kan? Saya berani bermimpi besar, karena itulah yang orangtua saya ajarkan kepada saya. Bermimpi besar, lalu berusaha. Kenapa tidak? Untuk mencapai mimpi tersebut, sepertinya akan sangat cocok apabila saya meneruskan studi saya di jurusan Business Administration. Saya ingin, ingiiiiiiiiin sekali, bisa mendapat gelar MBA dari University of California, Berkeley. Berkeley menjadi universitas impian saya dari dulu, dari SMA. Hidup di Amerika Serikat juga merupakan impian saya sejak kecil. Semakin lengkap dan jelas saja mimpi saya, dulu hanya sebatas mimpi yang masih kabur, buram. Sekarang saya tahu untuk apa saya kuliah, apa yang akan saya lakukan setelah lulus, dan apa cita-cita saya. Tidak lupa, jangan pernah takut untuk bermimpi besar. Tidak ada yang melarang!

0 comments: